Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

13 Feb 2012

Makna Thaghut

Makna Thaghut

Ungkapan seperti ini mungkin pernah kita dengar, “Pemerintah itu thaghut...!!!” . Mengapa ada sebagian orang yang menyebut pemerintah sebagai thaghut? Menurut mereka pemerintah adalah thaghut karena tidak menerapkan hukum Islam.
Benarkah demikian? Simak bahasan berikut supaya kita tidak terjatuh dalam pemahaman yang salah tentang thaghut.
Dakwah semua Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus adalah menyeru umat utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengkufuri thaghut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

“Dan telah kami utus seorang Rasul pada tiap umat : ‘Beribadahlah kaliankepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut’.”

Kufur kepada thaghut adalah syarat sah ibadah seseorang sebagaimana wudhu merupakan syarat sah shalat.
Pengertian Thaghut Secara bahasa kata ini diambil dari kata طَغَى arti melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ

“Sesungguh ketika air melampaui batas Kami bawa kalian di perahu.”

Adapun menurut istilah syariat definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim: “adalah tiap sesuatu yang melampui batasan baik yang disembah atau diikuti atau ditaati .”
Ibnul Qayyim berkata: “Jika engkau perhatikan thaghut-thaghut di alam ini tidak akan keluar dari tiga jenis golongan tersebut.” Definisi lain thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah .
Wajib Mengingkari Thaghut Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya utk mengkufuri thaghut dan beriman kepada Allah.

Dasar adalah:
1.        Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasul-Nya utk mendakwahkan masalah ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

”Dan telah kami utus pada tiap umat seorang Rasul :Beribadahlah kaliankepada Allah dan jauhilah oleh kalian thaghut.”

2.        Kufur kepada thaghut merupakan syarat sah iman sehingga tidak sah iman seseorang hingga mengingkari thaghut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
”Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah mk dia telah berpegang dengan tali yang kokoh.”

3.        Karena ini terkandung dalam lafadz Laa ilaha illallah.
Ilallah adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kufur kepada thaghut.
 Laa ilaha menafikan semua peribatan kepada selain Allah. Laa ilaha illallah 
 menetapkan ibadah hanya utk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bentuk Pengingkaran terhadap Thaghut

Para ulama menerangkan bahwa mengkufuri thaghut terwujud dengan enam perkara yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an:

1. Meyakini batil peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Meninggalkan dan meninggalkan peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati lisan dan anggota badan.
3. Membenci dengan hati dan mencerca dengan lisan. Cercaan dengan lisan yaitu dengan cara menunjukkan dan menerangkan bahwa sesembahan selain Allah adalah batil dan tidak bisa memberikan manfaat.
4. Mengkafirkan pengikut dan penyembah thaghut.
5. Memusuhi mereka dengan dzahir dan batin dengan hati dan anggota badan.
6. Menghilangkan sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tangan jika ada kemampuan.

Keenam perkara ini telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kita diperintahkan utk meneladani beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ

”Telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang2 yang bersamanya.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meyakini batil peribadahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيْمَ. إِذْ قَالَ لأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُوْنَ. قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِيْنَ. قَالَ هَلْ يَسْمَعُوْنَكُمْ إِذْ تَدْعُوْنَ. أَوْ يَنْفَعُوْنَكُمْ أَوْ يَضُرُّوْنَ

“Bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapak dan kaumnya: ‘Apakah yang kalian sembah?’ Mereka berkata: ‘Kami menyembah patung dan kami akan terus mengibadahinya.’ mk Ibrahim berkata: ‘Apakah mendengar ketika kalian berdoa? Apakah dia bisa memberikan manfaat atau menimpakan mudarat?’.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meyakini batil sesembahan mereka bahwa sesembahan mereka tidak bisa memberikan manfaat atau menimpakan mudarat. Beliau meninggalkan serta menjauhi sesembahan mereka kemudian hijrah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِيْنِ

“ berkata: ‘Aku akan pergi kepada Rabbku dan Dia akan memberikan hidayah kepadaku’.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim:

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُوْنَ. إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِيْنِ

“Aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali Dzat yang telah menciptakanku karena sungguh Dia akan memberikan hidayah kepadaku.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang Ibrahim ‘alaihissalam:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَأَدْعُو رَبِّي

“Aku akan menjauhi kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah dan aku akan berdoa kepada Rabbku.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membenci sesembahan mereka dengan hati dan menjelekkan dengan lisan sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan bahwa Ibrahim berkata:

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ

”Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengingkari mereka dan mengabarkan bahwa mereka adalah kafir serta mengumumkan bahwa ia berlepas diri dari mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam surat Al-Mumtahanah:

كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

“Kami ingkar terhadap kalian dan telah tampak antara kami dan kalianpermusuhan dan kebencian hingga kalian beriman kepada Allah saja.”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memusuhi mereka dan menghancurkan sesembahan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ

“ menjadikan hancur berkeping-keping kecuali patung yang terbesar..”

Tokoh-tokoh Thaghut

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu berkata: “Tokoh thaghut ada lima: Iblis la’natullah ‘alaih orang yang disembah dan dia ridha diperlakukan demikian orang yang menyeru orang lain agar menyembah diriorang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib dan orang yang berhukum selaindengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

1. Iblis yaitu setan yang terkutuk dan dilaknat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya:

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
“Sesungguh laknat-Ku atas kalian sampai hari kiamat.”

Awal Iblis bersama malaikat tetapi enggan bersujud kepada Adam‘alaihissalam. Ketika diperintah utk sujud kepada Adam ‘alaihissalam itulah tampak kesombongan Iblis.

2. Seorang yang disembah dalam keadaan ridha.
Adapun yang orang yang tidak ridha disembah bukanlah thaghut.

3. Orang yang menyeru orang lain utk menyembah dirinya.
Dia termasuk thaghut baik ada orang lain yang mengikuti dakwah ataupun tidak. Dia sudah menjadi thaghut dengan semata menyeru orang utk menyembah dirinya. Termasuk dalam golongan ini adalah Fir’aun dan syaikh-syaikh tarekat Sufi yang menyeru pengikut utk menyembah mereka.

4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu tentang ilmu ghaib.
Karena ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

“Katakanlah tidak ada yang mengetahui perkara ghaib di langit dan bumi kecuali Allah”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ؛ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي غَدٍ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُوْنُ فِي اْلأَرْحَامِ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا، وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ، وَمَا يَدْرِي أَحَدٌ مَتَى يَجِيْءُ الْمَطَرُ

“Kunci-kunci perkara ghaib ada lima tidak ada yang mengetahui kecuali Allah: Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi besok; Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang ada di dalam rahim-rahim; Suatu jiwa tidak mengetahui apa yang akan ia lakukan besok; Dan tidak mengetahui di negeri mana dia akan mati; Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan hujan turun.”

Maka barangsiapa mengaku mengetahui perkara ghaib berarti telah kafir karena telah mendustakan apa yang telah diterangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Termasuk golongan thaghut yang keempat adalah tukang sihir dan dukun-dukun.

5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berhukum dengan hukum yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan termasuk Tauhid Uluhiyyah dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hakim yang sebenar-benar adalah termasuk Tauhid Rububiyah. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut orang yang diikuti oleh pengikut mereka -dalam hal yang menyelisihi apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan- sebagai rabb bagi pengikut mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan tukang ibadah mereka sebagai Rabb selain Allah..”

Berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa termasuk kufur akbar yang mengeluarkan seorang dari Islam dan bisa pula kufur ashgar yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam. Hal ini sesuai dengan keyakinan pelakunya. Karena orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala ada beberapa jenis:

1. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala karena merendahkan dan membenci hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini termasuk kufur akbar yang mengeluarkan pelaku dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Hal itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan mk Allah menggugurkan amalan mereka.”

2. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh afdhal dan lbh baik dari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun kufur akbar yang bisa mengeluarkan pelaku dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْقِنُوْنَ

“Siapakah yang lbh baik hukum daripada hukum Allah bagi orang2 yang yakin?”

3. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan keyakinan bahwa hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut sama dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun kufur akbar.

4. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala karena meyakini tentang boleh dan halal berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inipun pelaku kafir karena telah menghalalkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.

5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan masih meyakini bahwa hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh afdhal dan tidak menyamakan hukum selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hukum-Nya bahkan ia mengatakan bahwa hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh afdhal dan lbh tinggi. Dia tidak menghalalkan tindakan berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ha saja dia berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala semata karena syahwat jabatan dan kepentingan pribadi dalam keadaan yakin bahwa diri salah dan sedang berbuat maksiat. Yang semacam ini termasuk kufur ashgar pelaku tidak keluar dari Islam. Inilah yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Inilah macam-macam thaghut di alam ini. Jika engkau mengamati dan mengamati keadaan manusia engkau akan lihat kebanyakan manusia telah berpaling dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju ibadah kepada thaghut. Mereka berpaling dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya menuju ketaatan kepada thaghut dan mengikutinya.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kaum muslimin utk mengkufuri thaghut dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan upaya terpenting utk mendapatkan adalah dengan menyebarkan dakwah tauhid kepada umat ini.
Wallahu a’lam bish-shawab.

23 Des 2011

BIOGRAFI SINGKAT MALIK BIN DINAR

Saat muda kehidupan  Malik bin Dinar selalu di isi dengan dosa,mabuk-mabukan, maksiat, berbuat berbuat onar, memakan hak hak orang lain, dan memakan riba, tidak ada satu maksiatpun yang tidak dilakukannya. Ia sungguh sangatlah jahat hingga manusia lain pun tidak menghargai karena kejahatannya.
Pada suatu waktu Malik Bin Dinar merindukan untuk menikah dan memiliki keluarga, maka menikahlah ia dan di karuniakan seorang anak yang cantik bernama Fatimah.
Dia sangat mencintai putrinya Fathimah. Suatu ketika anak yang di cintainya melihat Malik Bin Dinar sedang mabuk dan memegang segelas minuman keras, maka Fathimah pun mendekat dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai baju. Fatimah tidak tega melihat ayahnya melakukan hal seperti itu karena dia sangat mencintai ayahnya, saat itu umur Fathimah belum genap dua tahun. Saat genap tiga tahun Fathimah meninggal dunia.
Kini Malik Bin Dinar semakin menjadi setelah kehilangan anak yang di cintainya, dan dia selalu mabuk sepanjang malam, dia pertekat akan mabuk sepuasnya hingga tak sadarkan diri dan bermimpi.
Di alam mimpi tersebut Dia melihat hari kiamat.
 Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok - kelompok. Sementara Dia merasa  berada di antara manusia lain, mendengar seorang penyeru memanggil: Hai…! Mari menghadap al-Jabbar. Malik Bin Dinar melihat orang yang memanggilnya, dan Orang itu berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.

Kemudian hilanglah seluruh manusia seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian Malik Bin Dinar melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejarnya dengan membuka mulut. Dia pun lari ketakutan. Lalu dia mendekati seorang laki-laki tua yang lemah. Diapun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Laki-Laki Tua Itu menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah sana mudah-mudahan engkau selamat!”

Malik Bin Dinar pun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangnya. Tiba-tiba Dia mendapati api dihadapannya. Diapun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Diapun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Dia kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkan ku.” Maka dia menangis Orang tua itu seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat ! ”

Malik Bin DInarpun berlari menuju gunung tersebut Sementara ular dibelakangnya terus mengejarnya. Kemudian Dia melihat di atas gunung terdapat anak-anak kecil, dan mendengar semua anak tersebut berteriak: “ Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu !”

Diapun teringat dan sangat berbahagia bahwa dia mempunyai seorang putri yang telah meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkannya . Maka Fatimahpun memegang Malik Bin Dinar dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara Malik Bin Dinar sangat ketakutan. Lalu Fatimah kecil duduk di pangkuan Malik Bin Dinar sebagaimana dulu dia di pangku ayahnya saat di dunia.
Fatimah berkata : “Wahai Ayah “ Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah” (QS. Al-Hadid:16)

Malik Bin Dinar berkata : “ Wahai putriku, beritahu kepadaku tentang ular itu.”
Fatimah kecil berkata: “Itu adalah amal keburukan, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakan mu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalih mu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisi mu. Seandainya saja engkau tidak melahirkan ku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepada mu.”

Malik Bin Dinarpun terbangun dari tidurnya dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas Dia mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Malik Bin Dinar selalu berdoa dan selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).
Semoga Cerita di atas menjadi renungan bagi kita semua.